Kesehatan mental kini menjadi isu yang semakin krusial di kalangan remaja, tidak terkecuali bagi para siswa di tingkat sekolah menengah pertama. Menyadari pentingnya hal ini, siswa SMPN 2 Semarang mulai dibekali dengan pengetahuan mengenai First Aid Mental atau pertolongan pertama pada kesehatan mental. Program inovatif ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar kepada para pelajar tentang bagaimana mengenali tanda-tanda kecemasan pada teman sebaya dan langkah apa yang harus diambil untuk memberikan bantuan awal yang tepat. Di usia remaja, tekanan akademik dan dinamika pertemanan seringkali memicu munculnya rasa cemas yang berlebihan, sehingga kemampuan untuk saling membantu menjadi sangat relevan.
Langkah pertama dalam melakukan First Aid Mental di lingkungan sekolah adalah dengan menjadi pendengar yang aktif. Seringkali, seseorang yang sedang mengalami kecemasan hanya butuh didengar tanpa dihakimi. Siswa diajarkan untuk memberikan ruang aman bagi temannya untuk bercerita. Dalam konteks ini, empati memegang peranan kunci. Ketika seorang siswa mampu memposisikan diri di perasaan temannya, proses bantuan akan terasa lebih tulus dan menenangkan. Hal ini bukan berarti siswa harus menjadi psikolog dadakan, melainkan menjadi jembatan awal agar masalah yang dialami tidak berlarut-larut menjadi gangguan yang lebih serius.
Selain menjadi pendengar, teknik pernapasan juga menjadi salah satu materi yang dipelajari. Siswa diajarkan bagaimana memandu teman yang sedang panik untuk mengatur napas dengan teknik grounding. Teknik ini efektif untuk menarik kembali kesadaran seseorang ke masa kini, sehingga pikiran yang carut-marut akibat rasa cemas bisa sedikit mereda. Pengetahuan praktis seperti ini sangat dibutuhkan karena serangan cemas bisa terjadi kapan saja, baik di dalam kelas saat ujian maupun saat istirahat di kantin. Dengan adanya pembekalan ini, lingkungan SMPN 2 Semarang diharapkan menjadi ekosistem yang lebih suportif dan peduli terhadap kesehatan jiwa.
Penting untuk dipahami bahwa First Aid Mental juga mencakup pengetahuan tentang kapan harus mencari bantuan profesional. Siswa diberi pengertian bahwa jika kondisi teman tidak kunjung membaik, langkah selanjutnya adalah melaporkannya kepada guru bimbingan konseling (BK) atau orang tua. Edukasi ini bertujuan memutus stigma negatif mengenai kesehatan mental di sekolah. Selama ini, banyak remaja yang merasa malu atau takut dianggap “aneh” jika membicarakan perasaan mereka. Dengan menjadikan isu ini sebagai bahan pembelajaran, sekolah berharap kesehatan mental dianggap sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
