Permasalahan perundungan atau bullying adalah isu serius yang membutuhkan perhatian dan kerja sama dari berbagai pihak. Menciptakan lingkungan sekolah dan rumah yang aman serta suportif adalah kunci utama untuk mengatasi bullying. Peran aktif dari sekolah dan orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak dan menanamkan nilai-nilai empati sejak dini.
Pihak sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam mengatasi bullying. Langkah pertama yang harus diambil adalah menerapkan kebijakan anti-bullying yang jelas dan tegas. Kebijakan ini tidak hanya harus dipahami oleh seluruh siswa, tetapi juga harus ditaati tanpa pandang bulu. Sekolah dapat mengadakan sosialisasi rutin, seminar, atau workshop yang melibatkan siswa, guru, dan staf. Contohnya, pada 15 November 2025, Dinas Pendidikan Kota Surabaya meluncurkan program “Sekolah Bebas Bullying” yang mewajibkan seluruh sekolah di bawah naungannya untuk membentuk tim satgas anti-bullying. Program ini terbukti efektif dalam menekan angka kasus perundungan hingga 30% dalam tiga bulan pertama, menurut data yang dirilis oleh Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan setempat pada 20 Januari 2026. Selain itu, sekolah harus menyediakan saluran pelaporan yang aman dan rahasia bagi korban, seperti kotak aduan atau layanan konseling, agar mereka merasa nyaman untuk berbicara.
Di sisi lain, peran orang tua juga tidak kalah penting dalam mengatasi bullying. Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai dan interaksi sosial. Orang tua perlu menjadi contoh yang baik dan mengedukasi anak-anak tentang empati, toleransi, dan menghargai perbedaan. Komunikasi terbuka adalah kunci. Orang tua harus membangun hubungan yang memungkinkan anak merasa aman untuk berbagi cerita, baik itu sebagai korban maupun sebagai pelaku bullying. Jika anak menunjukkan tanda-tanda menjadi korban, seperti enggan ke sekolah, perubahan perilaku, atau penurunan prestasi, orang tua harus segera bertindak. Pada 20 Oktober 2025, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat bahwa 7 dari 10 kasus bullying yang berhasil diselesaikan berkat campur tangan aktif orang tua yang melaporkan kasus tersebut kepada pihak sekolah dan kepolisian. Hal ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat vital dalam penanganan kasus.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua adalah fondasi untuk mengatasi bullying secara efektif. Sekolah dapat mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua untuk membahas isu-isu bullying, membagikan tips parenting, dan bekerja sama dalam memantau perilaku anak. Sinergi ini menciptakan lingkungan yang konsisten, di mana pesan anti-bullying tidak hanya disampaikan di sekolah, tetapi juga diperkuat di rumah.
Secara keseluruhan, mengatasi bullying adalah tugas kolektif yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Dengan kebijakan sekolah yang tegas, edukasi yang berkesinambungan, dan keterlibatan aktif dari orang tua, kita dapat menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.
