Di era transformasi digital yang bergerak sangat cepat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah merambah ke berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. SMPN 2 Semarang menyadari bahwa kehadiran teknologi ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan akses informasi, namun di sisi lain, jika tidak dikelola dengan bijak, ia berisiko mengikis kemampuan berpikir kritis dan kreativitas manusia. Oleh karena itu, penerapan Etika Ber-AI menjadi sebuah keharusan agar para siswa tetap mampu mempertahankan sisi kemanusiaan mereka dan tidak sekadar menjadi “robot” yang hanya menjalankan perintah algoritma.
Langkah yang diambil oleh SMPN 2 Semarang dalam menyusun aturan penggunaan teknologi ini merupakan respons proaktif terhadap maraknya penggunaan platform seperti ChatGPT atau Gemini di kalangan pelajar. Fokus utama dari aturan ini bukanlah pelarangan total, melainkan edukasi mengenai cara kerja dan batasan moral dalam berinteraksi dengan kecerdasan buatan. Pihak sekolah menekankan bahwa Siswa harus tetap menjadi pemegang kendali penuh atas setiap karya atau tugas yang mereka kerjakan. AI hanya diposisikan sebagai asisten atau alat bantu riset, bukan pengganti proses berpikir orisinal.
Salah satu poin krusial dalam aturan tersebut adalah mengenai kejujuran akademik. Di lingkungan SMPN 2 Semarang, ditekankan bahwa menyalin jawaban langsung dari AI tanpa proses kurasi dan pemahaman mendalam adalah bentuk pelanggaran etika yang serius. Siswa diajarkan untuk melakukan verifikasi ulang terhadap data yang diberikan oleh AI, mengingat teknologi tersebut masih memiliki risiko “halusinasi” atau pemberian informasi yang tidak akurat. Dengan melakukan verifikasi mandiri, siswa secara tidak langsung melatih logika dan ketajaman analisis mereka, sehingga mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang disajikan di layar perangkat mereka.
Selain aspek akademik, etika ini juga menyentuh sisi empati dan komunikasi sosial. Seringkali, ketergantungan pada perangkat digital membuat remaja cenderung antisosial dan kehilangan kemampuan berkomunikasi secara personal. Melalui program ini, sekolah mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tidak memiliki rasa, moral, maupun empati. Interaksi manusia tetaplah yang utama. Guru-guru di sekolah ini berperan aktif sebagai fasilitator yang menjembatani teknologi dengan nilai-nilai karakter. Mereka memberikan tugas-tugas yang memerlukan refleksi pribadi dan pengalaman lapangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perintah teks ke mesin.
