Kegiatan Bedah Buku Karya Alumni ini bukan hanya menjadi ajang seremoni belaka, melainkan sebuah strategi edukatif untuk membangun jembatan emosional antara siswa aktif dengan para pendahulu mereka. Ketika seorang siswa membaca karya yang ditulis oleh kakak tingkat atau alumni yang pernah duduk di bangku kelas yang sama, muncul sebuah rasa bangga dan keterhubungan. Hal ini menciptakan motivasi intrinsik bahwa menulis bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Alumni dipandang sebagai sosok nyata yang telah berhasil menuangkan gagasan ke dalam bentuk literatur, sehingga mereka menjadi panutan atau role model yang relevan bagi para pelajar di Semarang.
Melalui program ini, sekolah berupaya secara sistematis untuk tingkatkan literasi di lingkungan internal. Proses bedah buku memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar tentang proses kreatif, mulai dari penggalian ide, riset, hingga teknik penyusunan draf hingga menjadi buku yang layak terbit. Diskusi interaktif yang terjadi selama acara memungkinkan adanya pertukaran pikiran yang kritis. Siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, tetapi didorong untuk mengajukan pertanyaan, memberikan opini, dan membedah struktur narasi dari buku yang sedang dibahas.
Aspek lain yang membuat kegiatan di SMPN 2 Semarang ini begitu efektif adalah integrasi nilai-nilai lokal dan pengalaman nyata. Banyak karya alumni yang mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari di kota Semarang atau pengalaman pribadi selama masa sekolah. Hal ini memudahkan siswa untuk mencerna isi buku karena latar belakang cerita yang terasa akrab. Keakraban inilah yang sering kali menjadi pintu masuk utama bagi seseorang untuk mulai mencintai aktivitas membaca. Jika bahan bacaan terasa terlalu asing atau jauh dari realitas, sering kali minat baca siswa akan cepat padam.
Selain itu, sekolah juga menyadari bahwa literasi di era modern harus mampu beradaptasi dengan tren perkembangan zaman. Bedah buku karya alumni ini juga mencakup diskusi mengenai literasi digital dan bagaimana proses penerbitan buku di masa kini. Siswa diberikan gambaran bahwa tulisan mereka kelak tidak hanya bisa dinikmati dalam bentuk cetak, tetapi juga melalui platform digital yang lebih luas jangkauannya. Pengetahuan praktis semacam ini memberikan nilai tambah bagi siswa, sehingga mereka merasa bahwa keterampilan menulis adalah aset masa depan yang sangat berharga.
